Review SmartphoneKumpulan lengkap review smartphone Indonesia

Forest Talk With Bloggers Pontianak, Upaya Menangani Kebakaran Hutan dan Lahan

Bicara tentang Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari kata hutan. Dengan luasnya hutan Indonesia hingga disebut sebagai paru-paru dunia.

Indonesia menduduki peringkat hutan terluas ketiga di dunia. Hutan Indonesia terdiri dari hutan tropis dan hutan hujan.

Hutan Indonesia

Hutan Indonesia

Hutan sendiri memiliki definisi, suatu wilayah dengan luasan lebih dari 6,25 ha dengan pohon dewasa lebih tinggi dari 5 meter dan tutupan kanopi lebih besar dari 30 % (KLHK, 2018).

Melihat fungsi hutan yang sangat besar bagi masa kini dan masa depan, Indonesia wajib menjaga kelestarian dan jumlah hutan.

Namun, hal ini tidak selaras dengan fakta yang ada. Tingkat kehilangan area hutan di Indonesia sangat cepat.

Menurut data Laboratorium Global Land Analysis & Discovery (GLAD) dari Universitas Maryland, sepanjang tahun 2001 hingga 2015, Indonesia mengalami kehilangan tutupan pohon yang sangat tinggi.

Angka kehilangan tutupan pohon ini bahkan belum mempertimbangkan secara keseluruhan data kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi di penghujung tahun 2015.

Perubahan Hutan

Ada tiga jenis perubahan yang terjadi pada hutan yaitu deforestasi, degradasi hutan dan konversi hutan.

Perubahan hutan

Deforestasi

Deforestasi adalah perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktivitas manusia.

Degradasi Hutan

Degradasi hutan adalah perusakan atau penurunan kualitas hutan (tutupan, biomassa dan/atau aspek lainnya)

Konversi Hutan

Konversi hutan adalah perubahan fungsi utama hutan, seperti menjadi lahan pertanian dan perkebunan, baik dilakukan oleh perusahaan maupun masyarakat.

Melihat penjelasan di atas, terdapat salah satu aktivitas yang sangat mengganggu kelestarian hutan, yaitu kebakaran.

Kebakaran Hutan dan Lahan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Indonesia terutama yang memiliki gambut kerap terjadi, terutama saat musim kemarau.

Pada periode Januari hingga 3 September 2018, satelit NOAA mencatat terdapat sekitar 3.042 titik panas di Indonesia, di mana ada sekitar 15.601,13 hektare kawasan gambut yang terbakar.

Kebakaran hutan dan lahan

Faktor utama penyebab kebakaran hutan dan lahan tersebut biasanya karena proses pembukaan lahan dengan cara dibakar. Suhu yang tinggi akibat cuaca panas juga memicu mudahnya terjadi kebakaran.

Untuk mengurangi dan menghilangkan kebakaran, berbagai upaya telah dilakukan. Mulai dari masyarakat peduli api, pemadaman dari darat, serta water boombing dan teknologi hujan buatan.

Kebakaran Lahan Gambut

Lahan gambut yang terbakar sangat sulit untuk dipadamkan. Meski api di permukaan sudah berhasil dipadamkan, bara di dalam tanah terus membakar gambut sehingga akan terus berasap dan bisa memicu kebakaran baru.

Kebakaran Lahan Gambut

Kendala lain yang sering dihadapi saat memadamkan kebakaran lahan gambut adalah sumber air yang sulit ditemukan. Selain itu, lahan gambut diketahui memiliki kedalaman yang sangat tebal.

Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan

Indonesia memiliki sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan yang disebut Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (Fire Danger Rating System).

Sistem peringatan dini ini dikembangkan oleh Canadian Forest Service (ICFS) dan lembaga pemerintah seperti Kementerian Kehutanan, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Koordinasi Nasional (Bakornas). Sistem ini merupakan proyek dengan dana hibah dari Canadian Internasional Development Agency (CIDA).

Output dari sistem peringatan dini tersebut berupa peta tentang kemudahan dimulainya api, tingkat kesulitan pengendalian api, dan kondisi kekeringan di wilayah Indonesia.

Dari hasil output tersebut, akan terlihat indikasi potensi terjadinya kebakaran. Hal ini bisa membuat usaha pencegahan menjadi lebih optimal. Peringatan dini akan segera disebar baik melalui media maupun ke pihak terkait.

Forest Talk With Bloggers Pontianak

Nah, baru-baru ini tepatnya pada 20 April 2019 bertempat di Ibis Hotel Pontianak, Lestari Hutan dan Yayasan Doktor Sjahrir bekerja sama dengan The Climate Reality Project Indonesia (bagian dari The Climate Reality Project dari Amerika Serikat), mengadakan seminar bersama blogger Pontianak. Sebanyak 50 blogger diundang untuk mengikuti acara tersebut.

Salah seorang narasumber, Atiek Widayati (Tropenbos Indonesia) memaparkan materi yang sangat menarik dengan tema “Pengelolaan Hutan dan Lanskap yang Berkelanjutan.”

Salah satu pembahasan dari ibu Atiek adalah perubahan lahan di hutan rawa gambut, terutama di pulau Kalimantan.

Kebakaran lahan gambut bisa mengakibatkan kabut asap dan masuk dalam kategori bencana. Dampak utama dari bencana ini adalah pelepasan gas karbon dioksida yang melebihi ambang batas.

Pada kasus kebakaran hutan tahun 2015, lahan seluas 2,6 juta hektare terbakar yang mana sebagian besar adalah lahan gambut. Akibatnya 1,2 miliar ton karbon dioksida hasil dari kebakaran tersebut, dilepaskan ke udara.

Forest Talk With Bloggers Pontianak

Melihat dampak kebakaran lahan yang sangat besar tersebut, sebagai seorang blogger dan generasi muda, saya merasa memiliki kewajiban untuk ikut menyampaikan kampanye lestari hutan.

Melalui tulisan ini, saya berharap banyak yang ikut tergerak hatinya untuk ikut berperan aktif menjaga kelestarian hutan. Di era globalisasi saat ini, media sudah sangat memadai dan mendukung segala aktivitas.

Mari mulai dari diri sendiri dan lanjut memberikan pengaruh kepada orang sekitar.

Salam Lestari Alam.

4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *